
INSTITUT PESANTREN BABAKAN CIREBON
KITAB
HADIYU SILSILATUL HAROMAIN
Nama "Hadiyu" berasal dari shighat isim fa’il dengan wazan fa’iilun (hadiyyun) yang berarti "pemberi petunjuk." Alternatif lainnya adalah wazan fa’iilun (isim manqush munakkar, haadin) yang berasal dari fi'il madhi hadaa yahdii hidaayatan. Bacaan Hadiyu memiliki jalur transmisi yang akurat, tersambung hingga para sufi dunia. Bacaan ini berkembang di Pesantren Babakan melalui KH. Muhammad Amin Halim. KH. Muhammad Amin Halim memperoleh Awrad Hadiyu tersebut dari KH. Abdul Hannan bin Tayib, yang menerimanya dari KH. Muhammad Amin (dikenal sebagai Kiyai Madamin). Kiyai Madamin mendapatkan bacaan ini dari KH. Ismail bin KH. Adzroi, yang menerimanya dari KH. Abdul Fannan. Selanjutnya, KH. Abdul Fannan mendapatkan Awrad Hadiyu ini dari KH. Marzuki bin KH. Irsyad bin Mbah Kriyan. KH. Zamzami Amin dan keluarga pesantren Babakan Ciwaringin kemudian meneruskan Awrad Hadiyu ini dari KH. Abdul Hannan. Awrad Hadiyu merupakan model dzikir khas yang diajarkan di Pesantren Babakan Ciwaringin. Metode ini awalnya merujuk pada Silsilah Haramain, yang kemudian mengalami perubahan nama menjadi Hadiyu. Istilah "Hadiyu" sudah familiar karena terdapat di awal bacaan dan mudah dipahami oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Sekitar tahun 1909, orang pertama yang mensyiarkan Hadiyu adalah KH. Marzuki Galagamba. Peristiwa ini terjadi ketika Kiyai Madamin pindah ke wilayah selatan bersama putrinya, Nyai Shulaha (baru berumur 9 bulan). Di Umah Gede (rumah pusaka), Hadiyu pertama kali dibacakan. Pembacaan Hadiyu dipimpin oleh KH. Ismail bin Adzroi, sedangkan doa dipanjatkan oleh KH. Marzuki dan KH. Abdul Fannan, yang juga merupakan mertua Kiyai Madamin.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain